“Saat ini memang Jepara memiliki seniman ukir hebat. Bahkan dapat disebut maestro. Namun usia mereka sebagian besar sudah di atas 55 tahun. Sementara generasi muda dan anak-anak telah mulai meninggalkan warisan leluhurnya. Padahal seni ukir sejak tahun 2015 telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia,” terang Hadi Priyanto.
Karena itu kehadiran Jepara Wood Carving Gallery ini didedikasikan untuk pusat pelestarian ukir bagi para pelajar mulai PAUD hingga SLTA. “Kami bukan hanya memberikan bekal keterampilan, tetapi juga menanamkan budaya dan sejarah ukir Jepara,” ujar Hadi Priyanto.
Ia juga menjelaskan, pada bulan November ini Yayasan Pelestari Ukir akan mengadakan pelatihan ukir secara gratis kepada 650 orang siswa dan guru. “Kami mendapatkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan,” terang Hadi.
Sementara Wakil Ketua Yayasan Peluk Jepara Ali Afendi di samping mengenalkan yel-yel pelestarian ukir Jepara juga memotivasi para peserta untuk menekuni seni ukir.“Di pundak kalian masa depan ukir Jepara kami serahkan. Karena itu jurusan Kriya Kayu SMKN 2 Jepara harus mendapatkan perlakuan khusus dari para pemangku kepentingan. Sebab jurusan ini berkewajiban menyiapkan maestro ukir 30–40 tahun ke depan,” tegas Ali Afendi.
Editor : Redaktur