InvestigasiMabes.com | Banyuwangi - Begitulah bunyi pepatah kuno belanda yang dikutip oleh Mohammad Roem dalam karangannya yang berjudul “Haji Agus Salim, Memimpin Adalah Menderita” (Prisma No 8, Agustus 1997).Jika dicermati, ungkapan tersebut sangat sarat makna. Memimpin itu, pada level manapun, ialah Amanah, bukan hadiah. Memimpin itu sacrificing, bukan demanding. Memimpin ittu berkorban, bukan menuntut.
Menjadi pemimpin kok menderita? Ya, dia akan menderita karena harus berkorban harta, tenaga, fikiran dan waktunya demi yang dipimpinnya, dia juga menderita karena turut merasakan penderitaan rakyatnya, dari mulai kemiskinan, pengangguran, sakit, gizi buruk, rumah tidak layak huni, sampai merasakan menderita jika rakyatnya masih bergelimang dendan kemaksiatan.Sangat ironis dan tidak masuk akal, jika ada pemimpin yang hobi berpesta, bermewah mewah merasa bahagia atas penderitaan rakyatnya.
Pada tahun 2024 mendatang, rakyat Indonesia akan Kembali dihadapkan dengan pemilihan pemimpin baru, mulai dari pemilihan Presiden hingga DPRD yang dilaksanakan secara serentak di berbagai kota.Sudah banyak calon pemimpin yang harapannya mampu menjadi sosok yang menjadi representasi dalam memenuhi kebutuhan rakyat.
Salah satu calon pemimpin yang mendaftar pada kursi DPRD dapil 4 Kabupaten Banyuwangi pada kontestasi pemilu tahun 2024 adalah Mukhtar Nabali (Gus Nabil).Beliau merupakan sosok yang lahir dari lingkungan pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Dari pola asuh dan lingkungan tempat dia dibesarkan, Gus Nabil sudah familiar dengan istilah tirakat dan perilaku yang sesuai dengan tuntunan agama Islam.
Untuk memenuhi kapasitasnya sebagai seorang pemimpin, Gus Nabil menyelesaikan studi nya di timur tengah dengan mengambil jurusan Hukum Islam di Universitas Al Azhar Cairo dan sekarang menempuh program Magister di Universitas Gajah Mada jurusan Kajian Timur Tengah.Ketika menempuh studi di timur tengah, Gus Nabil aktif dalam organisasi PPI Hadramaut dan menjabat sebagai Kordinator Biro Pers internasional.
Tak hanya itu, dalam upayanya berproses menjadi seorang pemimpin, Gus Nabil pernah menjadi ketua organisasi buruh migran selama 5 tahun mulai tahun 2016 sampai 2020.Gus Nabil, yang memiliki latar belakang sebagai mantan ketua Garda BMI Mesir, telah menjadi suara bagi ribuan pekerja yang sering kali berjuang tanpa pengakuan di negara tujuan mereka.Dengan langkah majunya ke dalam dunia politik, ia berharap dapat membuat perubahan yang lebih besar. Gus Nabil telah menjadi suara penting dalam perjuangan pekerja migran, menggalang dukungan untuk pemahaman dan perlindungan hak-hak mereka.Sebagai calon anggota DPRD, ia berharap dapat menggunakan posisinya untuk membawa isu-isu pekerja migran ke pusat perhatian dan memastikan kebijakan yang mendukung kesejahteraan mereka.
Saat menjadi ketua buruh migran Gus Nabil benar-benar mengabdikan jabatannya untuk seluruh anggota yang bernaung dibawah organisasinya. Gus Nabil tidak pernah menerima gaji dari jabatannya itu yang dia emban selama lima tahun tersebut.Yang beliau lakukan semata-mata untuk mengikuti sabda Nabi Muhammad SAW, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.”
Gus Nabil telah menginspirasi banyak orang dengan komitmennya terhadap pekerja migran. Ia membawa semangat perubahan dan penghapusan ketidaksetaraan dari lapangan ke panggung legislatif.Dengan pengalaman dan pengetahuannya tentang isu-isu pekerja migran, ia berencana untuk mengemukakan kebijakan-kebijakan yang memberikan perlindungan, meningkatkan kondisi kerja, dan memberi suara pada mereka yang seringkali diabaikan.
Kepribadian beliau yang rela jungkir balik demi kemakmuran bersama merupakan citra seorang pemimpin yang diharapkan masyarakat umum.Tentunya, dalam kontestasi menjadi seorang pemimpin, yang dibutuhkan tidak hanya kesiapannya dalam penderitaan yang diemban pada jabatannya, tetapi juga kapasitas keilmuan berupa ide dan gagsan untuk memunculkan trobosan-trobosan terbaru, yang menjadi patokan bentuk ideal seorang pemimpin.
Editor : Investigasi Mabes