Makan bersama usai doa bersama lintas agama.
Bupati Jepara, Mas Wiwit, sapaan akrab Witiarso Utomo, mengatakan bahwa doa bersama dipilih sebagai cara menyambut tahun baru tanpa perayaan yang bersifat seremonial. Menurut dia, kondisi bangsa yang tengah menghadapi berbagai bencana menjadi pertimbangan utama. “Kita memilih berdoa bersama agar Jepara dijauhkan dari bencana dan hal-hal yang tidak baik,” ujarnya.
Desa Plajan menjurut bupati dipilih karena dikenal memiliki tingkat kerukunan antarumat beragama yang kuat. Menurut dia, kondisi tersebut mencerminkan kehidupan sosial yang harmonis. “Plajan menjadi contoh kerukunan yang sudah dikenal luas. Kami berharap ini bisa menjadi teladan,” terangnya.
Lebih lanjut Mas Wiwit menurutkan, doa lintas agama menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan menjaga ketenangan sosial. Ia menilai awal tahun patut diisi dengan doa dan sikap saling menghormati. “Momentum ini untuk menjaga persatuan masyarakat Jepara,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Gus Hajar, sapaan akrab Wabup Jepara M. Ibnu Hajar. Ia mengatakan kegiatan tersebut mencerminkan nilai toleransi yang telah tumbuh di masyarakat. “Keterlibatan berbagai unsur menunjukkan semangat kebersamaan yang terus kami rawat,” ujarnya.Usai doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah. Berbagai elemen masyarakat tampak berbaur dengan unsur pemerintah daerah. Suasana berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.
Editor : Investigasi MabesSumber : Tim buru berita