“Transformasi digital bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Aparatur harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Namun yang paling menentukan tetaplah kepercayaan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, berbagai persoalan strategis seperti kemiskinan, stunting, pengangguran, hingga penanggulangan bencana hanya dapat diselesaikan melalui kolaborasi dan soliditas seluruh unsur pemerintahan. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus mampu hadir di tengah masyarakat, cepat mengambil keputusan, dan bekerja secara kolaboratif.
“Sumatera Barat merupakan daerah yang memiliki karakteristik kebencanaan yang tinggi. Kita membutuhkan aparatur yang tanggap, adaptif, mampu bekerja di bawah tekanan, serta siap hadir melayani masyarakat dalam situasi apa pun,” ujarnya.
Mahyeldi juga mengajak para praja untuk terus menjunjung tinggi nilai-nilai kepamongprajaan serta falsafah Tungku Tigo Sajarangan sebagai fondasi dalam menjaga persatuan dan memperkuat semangat pengabdian. Ia berharap para calon aparatur tersebut mampu meneladani kontribusi para tokoh bangsa asal Sumatera Barat, seperti Bung Hatta, yang telah memberikan sumbangsih besar bagi lahirnya Indonesia.Mahyeldi juga mengingatkan seluruh Praja asal Sumbar akan pentingnya menjaga kejujuran, rendah hati, terbuka terhadap kritik, serta menjadikan kepentingan masyarakat sebagai orientasi utama dalam setiap kebijakan.
Editor : RedakturSumber : Team