Menurutnya, revitalisasi sekolah tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran.
“Semoga program revitalisasi ini tidak hanya pembangunan fisik, tetapi juga membuat proses belajar mengajar menjadi lebih inovatif dan menyenangkan,” katanya.
Nugraheni menambahkan, potensi budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran yang kreatif. Di Kabupaten Jepara, misalnya, seni ukir dapat diintegrasikan dalam kegiatan belajar mengajar untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada peserta didik.
Sementara itu, Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar menilai pelaksanaan revitalisasi di kedua sekolah tersebut berjalan dengan baik. Di SD Negeri Kauman, revitalisasi mencakup pembangunan satu ruang perpustakaan yang sebelumnya belum tersedia, perbaikan atap ruang kelas, fasad bangunan, serta halaman sekolah.Adapun di SMP Negeri 3 Jepara, revitalisasi mencakup 11 ruang kelas. Hajar menjelaskan, berdasarkan laporan yang diterimanya, semula hanya lima ruang kelas yang direncanakan untuk direvitalisasi. Namun, setelah diketahui masih terdapat alokasi dana yang dapat dimanfaatkan, cakupan pekerjaan diperluas menjadi 11 ruang kelas. Seluruh ruang kelas tersebut menggunakan atap berbahan uPVC.
Editor : RedakturSumber : Team