Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik."
Petatah itu bukan sekadar rangkaian kata yang diwariskan leluhur Minangkabau. Ia adalah falsafah yang mengajarkan bahwa kehidupan bersama hanya akan kokoh apabila setiap persoalan diselesaikan dengan kebijaksanaan, musyawarah, dan penghormatan kepada nilai-nilai adat.
Ketika masyarakat Solok Selatan bersiap menyambut 7 Oktober 2026, hari pelaksanaan Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) Serentak di 39 nagari, petuah itu terasa semakin relevan. Sebab yang akan dipilih bukan sekadar seorang pemimpin administratif, melainkan sosok yang akan memegang amanah adat, melayani masyarakat, dan menjadi wajah nagari di hadapan anak kemenakan.
Pilwana adalah pesta demokrasi yang paling dekat dengan denyut kehidupan masyarakat. Berbeda dengan pemilihan di tingkat yang lebih tinggi, keputusan yang lahir di bilik suara nagari akan langsung bersentuhan dengan sawah yang membutuhkan irigasi, jalan yang perlu diperbaiki, pemuda yang membutuhkan ruang berkarya, hingga keluarga yang berharap pelayanan pemerintahan semakin baik.
Tahapan Pilwana sendiri telah berjalan. Pendaftaran calon, penetapan peserta, hingga pengundian nomor urut menjadi bagian dari proses menuju hari pemungutan suara pada 7 Oktober nanti. Dinamika di setiap nagari tentu berbeda-beda, tetapi semuanya bermuara pada satu harapan: melahirkan pemimpin yang memperoleh kepercayaan masyarakat secara bermartabat.
Namun sesungguhnya, kekuatan nagari tidak pernah hanya bertumpu pada wali nagari. Nagari berdiri tegak karena ditopang oleh lembaga adat yang telah mengakar jauh sebelum lahirnya sistem pemerintahan modern.Tungku Tigo Sajarangan: Tiga Tiang Penyangga Nagari
Minangkabau mengenal falsafah Tungku Tigo Sajarangan. Sebagaimana tungku berkaki tiga yang menopang periuk agar tetap seimbang, kehidupan nagari juga berdiri di atas tiga unsur utama: Niniak Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai. Ketiganya bukan simbol seremonial.
Niniak Mamak adalah pemegang amanah kaum. Mereka menjaga adat, menyelesaikan perselisihan, dan memastikan hubungan antar keluarga tetap utuh. Dalam suasana Pilwana yang sarat perbedaan pilihan, suara seorang penghulu sering kali lebih menenangkan daripada ribuan unggahan di media sosial.
Seorang Niniak Mamak yang bijak akan mengingatkan bahwa pilihan politik boleh berbeda, tetapi hubungan sebagai anak kemenakan tidak boleh retak.
Editor : Investigasi Mabes