Hari ini ancaman itu tidak selalu datang dalam bentuk pertikaian terbuka. Ia bisa hadir melalui kabar bohong, ujaran kebencian, politik uang, maupun provokasi yang menyebar cepat melalui telepon genggam. Karena itu, Parik Paga Nagari harus dimaknai sebagai tanggung jawab Bersama.
Pemuda menjaga ruang digital tetap sehat.
Tokoh adat menjaga kesejukan musyawarah.
Tokoh agama menjaga akhlak masyarakat.
Penyelenggara Pilwana menjaga integritas proses demokrasi. Dan seluruh warga menjaga agar tidak ada perbedaan pilihan yang berubah menjadi permusuhan berkepanjangan.
Marwah Nagari Lebih Tinggi dari pada KemenanganKontestasi selalu melahirkan dua kemungkinan: ada yang menang dan ada yang belum berhasil. Tetapi dalam falsafah Minangkabau, marwah nagari selalu lebih tinggi daripada kepentingan seseorang. Kampanye hendaknya menjadi ruang adu gagasan, bukan adu caci. Rekam jejak lebih penting daripada janji kosong. Integritas lebih berharga daripada popularitas sesaat. Sebab setelah kotak suara ditutup, masyarakat tetap akan bertemu di surau, di sawah, di pasar, di pesta adat, dan di pemakaman kaum. Tidak ada kemenangan politik yang layak dibayar dengan putusnya silaturahmi.
Menjemput Fajar Nagari
Tanggal 7 Oktober 2026 akan datang sebagaimana fajar menyingsing di kaki Gunung Kerinci dan Bukit Barisan. Ketika matahari pagi menerangi hamparan sawah Solok Selatan, masyarakat akan berjalan menuju tempat pemungutan suara dengan harapan yang mereka titipkan pada selembar surat suara.
Semoga pada hari itu, Niniak Mamak tetap menjadi peneduh di tengah perbedaan.
Editor : Investigasi Mabes