InvestigasiMabes.com | Redaksi - Ada sebuah profesi yang semakin menjanjikan di negeri ini: menjadi orang pintar yang menjelaskan mengapa orang lain tidak pintar. Pasarnya luas, peminatnya banyak, dan modalnya tidak perlu sertifikat kompetensi. Cukup mikrofon, kamera, kosakata filosofis, serta keberanian menyebut pihak lain “dungu”.
Namun, profesi ini menyimpan risiko. Suatu hari, ketika terlalu sibuk membedah kesalahan berpikir orang lain, sang pembedah bisa terpeleset oleh logikanya sendiri. Hal inilah yang menarik dicermati dari wacana yang dilemparkan pengamat politik Rocky Gerung terkait polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan alokasi anggaran pendidikan dalam APBN.
Dalam perdebatannya, Rocky memberikan ilustrasi skenario ekstrem: jika seluruh anggaran pendidikan dialihkan untuk MBG, guru akan kehilangan sumber pendanaannya. Sebaliknya, jika seluruh anggaran MBG dialihkan untuk kesejahteraan guru, anak-anak kehilangan nutrisi. Rocky berargumen bahwa ia sedang menguji logika dan konsekuensi trade-off kebijakan.
Namun, apakah ilustrasi tersebut membantu memahami persoalan, atau justru mengaburkan substansi kebijakan yang sebenarnya?False Dilemma di Meja Makan
Editor : RedakturSumber : Dosen